27.7.19
lho, apa ini?
kok bertemu kamu bikin aku gagu?
padahal rasanya kita biasa-biasa aja

lho, apa ini?
kok melihat kamu aku jadi tercekat?
padahal aku bahkan tak tahu apa kabarmu

kubuka catatan-catatan lama
kutengok jurai cerita dalam kepala
ah..
ternyata kamu pernah sepenting itu pada masanya
memang banyak orang lain yang menutupi peranmu
memang banyak memori lain yang ada di paling atas laciku
tapi ternyata, signifikansimu sekuat itu pada momennya
bukan sekali dua, kamu menyelamatkanku di saat-saat sulitku

kuingat-ingat lima - sembilan tahun lalu
kamu cuma kadang-kadang mampir
tapi seberkesan itu
awalnya aku melindungimu
tapi kamu lalu tumbuh lebih tinggi dariku
ada saatnya aku kesal karena kamu begitu menekanku
tapi aku mendewasa karenamu

sekarang dunia kita berbeda
tak ada lagi alasan untuk kita bersua
sehari dua akan kukenangkan kamu
lalu memorinya tersapu waktu

dunia kita dari dulu tak pernah benar-benar sama
dan sekarang habis sudah titik temu kita
sebatang dua kuhabiskan sambil mengingatmu
lalu kenangannya pergi terhembus angin

kamu ternyata istimewa
maafkan aku yang lupa
terima kasih

terima kasih
maafkan aku tak menyadari
kamu ternyata istimewa

Tomorrow you will know there’s no day better than today
We don’t see how lucky these days are til they go away
Til these days go away

Gotta live it with love
Again again again

(Ingrid Michaelson - Live It With Love)

28 Mei 2018
17.1.17
kata kawanku, hati resah adalah benih tulisan
karena itu menulis jadi butuh banyak usaha
saat bahagia

kupikir-pikir ada benarnya juga dia

lalu apa demi satu bait aku harus main api dan meresah-resahkan hati?
ah, terlalu berbahaya
mari kupinjam sajalah resah-resah hati orang lain

maka kubuka mataku
dan kutelusuri linimasaku
jauh.. jauh.. jauh kusesapi percikan-percikan hati orang-orang di sana
diiringi lagu-lagu yang mesin waktu

laun-laun aku gelisah
seperti ada sebongkah rasa tak terjelaskan yang menyekat nafasku

baru kusadari
jauh-jauh kusesap repih hati orang
ternyata kemudian aku tersesat

"orang lain" yang kupinjam resahnya...
tak lain aku, berbilang tahun yang lalu
13.7.16
aku awan
dimuati hujan
seperti hati
dirundung sedih tak berhenti
20.5.14

Padamu

RI,
Aku pernah begitu marah padamu.

Waktu umurku tujuh belas, aku memilihmu. Waktu itu aku bisa memilih mau bersama kamu atau bersama pilihan lain yang mungkin lebih menjanjikan masa depan cerah. Demi cinta, kesetiaan dan balas budi, aku memilihmu. Kupeluk dirimu menjadi keutuhan diriku. Tapi apa yang terjadi kemudian?

Kamu mengkhianatiku. Pengkhianatan terbesar dalam hidupku.

Waktu itu hari keempat aku berumur sembilan belas. Kamu menikamku dari belakang. Menginjak-injak kesetiaan, kepercayaan, dan kepasrahan diriku padamu. Saat itu marahku belum terasa, aku cuma tahu dan melakukan satu: bertahan hidup. Baru beberapa bulan setelahnya aku menggelegak. Muak yang berdeguk di kerongkonganku karena kamu semakin terasa menjijikkan bagiku. Bajingan munafik!

Waktu itu umurku hampir dua puluh. Aku melakukan segala cara yang aku bisa dan mengambil semua kesempatan yang aku lihat ~ untuk meninggalkanmu.

RI,
Pagi ini kukenangkan semua itu dan kusadari aku telah mereda.

Entah sejak umurku yang keberapa, aku tak lagi membencimu. Aku tidak bisa bilang aku jatuh cinta lagi padamu, tapi kepalaku juga tidak lagi berasap setiap mengingatmu. Aku mulai melihatmu dengan jernih. Kamu punya banyak keburukan tapi kamu juga punya banyak kebaikan.

Aku merasa ada harapan untukmu, ada harapan untuk kita. 

Entah sejak tahun keberapa umurku yang berkepala dua, aku memelihara satu kegelisahan dalam hatiku. Kegelisahan karena merasa belum cukup melakukan sesuatu untukmu, untuk mewujudkan semua harapan tentangmu dan tentang kita. Baranya kecil, tapi kukipas terus biar selalu menyala. Semoga hati yang gelisah terus menggerakkan seluruh tubuh untuk bekerja, apapun yang ia bisa.

Hari ini umurku hampir dua puluh lima. Meremang kudukku dan berkaca mataku ketika mengiang di telingaku sebuah lagu: padamu negeri, kami berjanji / padamu negeri, kami berbakti / padamu negeri, kami mengabdi / bagimu negeri, jiwa raga kami //

(Naskah asli ditulis pada 2 Februari 2012)

Selamat Hari Kebangkitan Nasional.
7.5.14

Mengingat-ingat

apakah waktu kecil dulu, aku
pernah merajuk tak menentu
sambil menjerit "Ibu, aku mau yang ituuuu!"

karena malam ini, aku
merasa gelisah tapi malu
karena diam-diam berdoa "Tuhan, aku mau yang itu"

(Naskah asli ditulis pada 8 Januari 2011)
6.5.14

Bermain di Taman Labirin

"Hai Tuan Putri, ada Ksatria yang ingin mengajakmu bermain di taman labirin"

Putri memicingkan mata mendengar sapaan Peri pagi itu. "Ksatria mana?" tanyanya. Lalu alis Putri terangkat saat mendengar jawaban Peri.

Bermain di taman labirin. Dengan Ksatria itu.
Bukan sesuatu yang Putri bayangkan, tapi ia beranjak keluar kamar juga.

Tiga menit berkuda, Putri pun sampai ke taman labirin. Tidak ada Ksatria di sana. Putri lalu memutuskan masuk labirin sendirian. Baru saja ia akan membuka gerbang labirin, seseorang menepuk pundaknya. Putri menoleh dan tersenyum pada Ksatria. Senyum Putri berganti kerutan kening ketika Ksatria berkata "Hey! Kau mau masuk bersamaku? Kebetulan aku juga sedang mencari cara tercepat keluar dari labirin ini". Kebetulan? Tapi kata Peri...

"Ah sudahlah," Putri menepis pikiran itu. Kakinya sudah melangkah masuk labirin bersama Ksatria. Putri melihat sekeliling, lalu tertegun. Labirin ini sama sekali baru untuknya. Hari itu bukan pertama kalinya ia bermain di taman labirin, tapi bahkan belokan pertama di depannya rasanya belum pernah ia lihat. Putri mengedikkan bahunya, "Ah, yang baru-baru biasanya seru, kan..".

Matahari sudah hampir tepat di atas kepala. Putri mulai berdecak tak sabar. Ksatria yang katanya mengajaknya bermain ternyata sering melesat pergi, tiba-tiba kembali, lalu pergi lagi. "Apanya yang bermain bersama sih kalau begini?" pikir Putri kesal.

"Ah sudahlah," lagi-lagi Putri menepis keributan dalam kepalanya. Ia mulai sibuk mencoba membayangkan pola labirin baru itu, membandingkannya dengan labirin-labirin lain yang sudah pernah dilewatinya, dan memikirkan kemungkinan jalan tercepat untuk keluar darinya. Tak lagi gemas dengan cara Ksatria bermain bersama, Putri sudah sangat senang karena belajar banyak hal baru selama perjalanannya dalam labirin.

Putri duduk bersandar ke dinding labirin, mengeluarkan kertas dan pensil dari tasnya, lalu mulai menggambar. Setengah jalan ia menggambar, tiba-tiba Ksatria datang dan duduk di sebelahnya. "Apanya yang bermain bersama kalau kau berjalan sendiri dan aku berjalan sendiri?" Putri berkata tanpa mengangkat pandang dari kertasnya. Ksatria tertawa, "Ah, kau salah dengar rupanya.. Aku tadi cuma mengajakmu masuk bersama kan? Hari ini misiku adalah mencari jalan keluar tercepat, mana kutahu kau ingin berjalan bersamaku."

Putri mendelik, dalam hati ingin mencubit Peri keras-keras tapi lalu menghela napas dan tersenyum. Hari itu terlalu cerah untuk dirusak dengan kekecewaan. "Sudah kau temukan jalan keluar tercepatnya?" tanya Putri. Ksatria menggeleng, "Tapi barangkali dengan gambarmu kita bisa temukan jalan itu". Putri mengangguk dan melanjutkan gambarnya, tentu disela dengan masukan Ksatria dan perdebatan di sana-sini. Perdebatan mereka bertabur tawa, meskipun kadang Putri frustrasi serasa ingin membenturkan kepala ke dinding labirin karena kekeraskepalaan Ksatria.

Akhirnya mereka berdua menyelesaikan gambar peta labirin. Berbekal peta itu, dengan cepat mereka bisa menemukan jalan keluar. Putri senang sekali, tapi..

..tak jauh di hadapan mereka, tampak labirin lain.

"Masuk bersama lagi?" tanya Ksatria.
Putri mengerjapkan mata. Candaan semesta macam apa ini.
Ditatapnya mata Ksatria, "Well, your call".

(Selesai ditulis pada 9 Januari 2014)
5.5.14

Untuk Penjahat Paling Kurang Ajar 2012

Woi!

Udah dong udah..
Insyaf dong lu! Daftar kejahatan lu udah lumayan panjang nih..

  • Ngebut sambil selap-selip di jalanan pikiran gw
  • Bikin kerusuhan di kepala gw
  • Masuk-masuk ke mimpi gw tanpa izin
  • Jadi candu yang bikin gw mabok dan ketagihan
  • Pencemaran nama baik orang-orang lain ~ mereka semua jadi keliatan ga ada apa-apanya dibandingin elu

Ya, udah ya..
Jadi orang baik-baik aja sana, jangan ganggu gw lagi.

Oh! Satu lagi..
Sini balikin hati gw. Seenaknya aja nyuri-nyuri..

(Naskah asli ditulis pada 29 Januari 2012)
4.5.14

Kepada Jemarinya

Halo, kalian..
Apa kabar? Tadi malam aku tiba-tiba ingat kalian, ketika dua jempolku sibuk mengetik di layar sentuh HPku.

Ingatkah kalian padaku?
Karena pernah ada masanya kalian menari semalaman di atas keyboard untuk menemuiku. Mengantar cerita dan tawa untukku, berbuah senyum dan hangat di hatiku.

Kangenkah kalian padaku?
Karena pernah ada masanya tak ada hari yang lepas dari ketak-ketuk suara keypad HP ketika kalian sibuk berlari di atasnya menuju kabarku. Pergi pulang, kalian antar juga kabarnya padaku. Hihihi pasti berisik sekali kalian waktu itu, aku bayangkan seperti main Dance Dance Revolution mungkin ya? Kan HPnya masih multitap waktu itu.. Lalu dia berganti HP, dan kalian mulai berselancar di atas permukaan baru. Layar sentuh dengan keyboard QWERTY. Hebat sekali, kalian langsung mahir berselancar di sana! Jarang sekali kutemukan salah ketik dalam pesan yang kalian antar, berbeda sekali dengan pesan dariku yang disisipi ralat bertanda bintang di sana-sini.

Pagi-pagi rusuh mengerjakan tugas kuliah yang tenggatnya beberapa jam lagi, siang-siang bosan di kelas, dan malam-malam menunggu kereta, kalian pernah tidak putus bertukar reports and trivialities denganku. Namaku pernah begitu sering kalian ketik di kolom recipient, kangenkah kalian?

Ya, kangenkah kalian padaku?
Karena sudah lama sekali bukan, kalian tidak mengantar pesan untukku? Atau mungkin kalian sering mengetik tapi dia urung meminta jempol kanan menekan "send"? Entahlah.. Yang jelas, kalian pergi bersama sebaris "Aku tidak apa-apa". Itu saja, tanpa pamit apalagi penjelasan.

Hey kalian yang membuatku tahan napas kalau sedang menari-nari di fret gitar,
Kalau ternyata di HPnya masih ada pesanku yang tersimpan, bolehkah kuminta sesekali kalian terpeleset dan membukanya? Cuma supaya dia ingat, pernah ada masanya aku dan dia selalu saling ada.

Salam (masih) sayang,
-Ne

Ps: Aku juga masih ingat rasanya ketika kalian bertaut dengan jemariku. 



(Naskah asli ditulis pada 16 Januari 2012)
4.2.14

Perjalanan

Pintu kereta membuka. Aku melangkah turun dan mencabut earphone dari telinga. Menyeberang rel dengan telinga tersumbat renyah suara penyiar radio tak pernah jadi ide yang bagus. Apalagi kali ini, waktu pikiranku melayang-layang tak karuan begini.

Stasiun dalam kampus ini.
Sekarang ada colokan gratis untuk nebeng mengisi batere HP ya.. Ah. Berapa kali dulu kamu bilang "Sampe rumah langsung nge-charge terus ngabarin ya"? Aku lupa, saking tak terhitungnya.

Aku berjalan keluar stasiun. Ada bis kuning melintas menuju halte.
Kejar. Enggak. Kejar. Enggak.
Ah tak usahlah. Kamu saja tak pernah benar-benar mengejarku.
Eh apa sih? Makin ngelantur saja aku ini.

Akhirnya aku duduk di halte, memandangi baliho-baliho di seberang. Ada baliho open recruitment unit kamu. Sampai sekarang kamu masih di sana ya, masih sering pulang pagi karena unit itu. Yah beda alasan sih, dulu pulang pagi karena latihan, sekarang karena rapat. Dulu kita jalan di track yang berbeda di dunia kemahasiswaan, tapi itu justru bikin obrolan kita menarik. Drama-drama di unit kamu sering bikin aku bengong dan intrik-intrik di dunia politik kampus yang kujalani sering bikin kamu geleng-geleng kepala. Dalam banyak hal kita memang bertolak belakang, tapi selama 4 tahun kuliah kita banyak sekali bersenang-senang.

Bis kuning bertanda merah datang.
Aku naik dan duduk di tempat kesukaanku. Pojok kiri belakang.

Bis berjalan. Berhenti di halte pertama, aku menoleh. Berapa kali kamu jalan sendirian malam-malam dari situ sampai kosan kamu? Kurang kerjaan. Ngekos dekat tempat latihan tapi pulang latihan maunya makan di sekitar kosanku. Sampai di kosan, kamu lapar lagi karena jalan kaki.

Bis berjalan terus. Halte ketujuh.
Selalu banyak yang turun dan naik di halte ini. Dulu tak jarang aku termasuk di antara mereka. Pagi-pagi turun di halte ini untuk menuju kosanmu dan menggedor pintu kamarmu kalau kamu tidak bangun waktu kutelepon 45 menit sebelum jam 8.

Akhirnya aku sampai di halte terakhir.
Pemberhentian terakhir bis ini justru tempat permulaan cerita kita. Dua mahasiswa satu fakultas yang duduk di kantin larut malam karena alasan yang berbeda. Sebaris "Ngapain lo jam segini?" berkembang jadi obrolan berjam-jam di banyak malam selama dua tahun, banyak cerita yang terentang selama empat tahun, dan perasaan entah apa yang masih bertahan enam tahun kemudian. Masih bertahan di hatiku dan masih bertahan juga ke-tidak terdefinisikan-nya. Sama tidak terdefinisikannya dengan hubungan kita, meskipun sudah berulang kali aku memancingmu untuk memperjelasnya.

Aku turun dan duduk di kantin.
Dari halte ke halte tadi, isi kepalaku berisik sekali. Meloncat dari satu kenangan ke kenangan yang lain. Bertengkar satu sama lain.

Kali ini kita harus selesaikan.
Tab WhatsApp denganmu masih berisi obrolan kita tadi pagi.
Kuketikkan "Ada yang ngelamar gw. Hari ini kita bisa ketemu?"
15.5.13

Aku selalu suka menemanimu pergi ke toko buku. Meskipun di sana kamu seolah lupa padaku. Aku suka rasanya kamu meremas tanganku sebelum melepaskan diri dari gandenganku, masuk ke surgamu. Dengan senyum yang kutahu artinya kamu senang sekaligus degdegan. Iya, kamu juga pernah bilang kalau kamu degdegan masuk toko buku. Seperti kencan buta barangkali ya? Kamu tidak tahu buku mana yang akan memikatmu kali ini. Atau apakah buku yang kamu incar bisa kamu beli.

Aku suka melihatmu berbinar saat menemukan buku yang kamu cari. Seruan 'Ah!' kecil dan senyum lebar itu, aku suka sekali. Lalu kamu akan memilih buku yang akan kamu beli, mengamati kesempurnaan fisiknya, kerapihan lem jilidannya. Hal yang awalnya tak kumengerti, tapi kemudian kupahami sebagai keinginanmu untuk memastikan buku itu bisa kamu simpan sampai lama.

Kadang kamu gugup ketika menemukan buku tertentu, lucu sekali. Mungkin buku itu sudah lama kamu cari, atau penulis kesukaanmu menerbitkan buku dan secara ajaib kamu tidak tahu. Ah, kamu bisa sampai menjatuhkan buku karena tanganmu gemetar. Lucu sekali kamu, ratu drama kecilku.

Aku selalu suka menemanimu pergi ke toko buku.
Menyaksikanmu sebahagia itu, tak ada yang mengalahkan rasanya bagiku.


-240911
Dipublikasikan di sini karena tadi pergi ke Melodia 
20.4.13

Hujan

Ngeliat awannya sih, setengah jam lagi Bogor hujan deres nih 
Aku membaca kalimat itu di akun twittermu. Haha.. Masih saja ya kamu hobi meramal cuaca. Aku sedang di kereta, baru melewati Citayam menuju Bogor. Pas lah, kira-kira setengah jam lagi aku sampai Bogor. Coba kita buktikan ya, kamu masih layak menyebut dirimu "Dinas BMKG Kota Bogor" atau tidak.

***

Aku turun dari kereta, mengambil lipatan karcis yang kuselipkan di rantai jam tangan, memberikannya sambil lalu pada petugas, lalu keluar stasiun. Tidak bisa tidak, kepalaku otomatis menoleh ke kios gorengan dekat pintu keluar. Sepi, tidak ada lelaki jangkung yang buru-buru pamit pada penjual gorengan waktu melihatku. Sudah sepuluh bulan... dan aku masih berharap kamu ada di situ? Ck.

Aku membuka payung.
Seperti katamu, hujannya deras sekali. Dalam hati.
3.4.13

Something Sweet For Sweet Person

Re berdiri berkacak pinggang di depan meja dapurnya. “4 telor, 210 gram  terigu, 400 gram gula pasir, 60 gram bubuk coklat, 225 mililiter minyak, 85 gram chocolate chips, 120 gram kenari, trus garem setengah sendok sama vanili sesendok,“ diabsennya satu per satu isi mangkuk yang ada di depannya, “Udah semua.. Loyang juga udah dilapis kertas trus dimentegain. Owkay..”. Re menyalakan pemutar musik di ponsel lalu meletakkan ponselnya di pojok meja dapur, bersandar di dinding. Ia tersenyum.
Malam itu Re berjalan-jalan di dunia maya seperti biasa. Klak klik sana sini, akhirnya ia sampai ke situs yang menjual berbagai kue kering. Re suka sekali lagu yang jadi musik latar situs itu. Dibukanya soundcloud pemilik lagu itu, tapi sayang sekali ia tidak menemukan tautan untuk mengunduhnya. Malam itu Re tidur dengan membiarkan situs kue kering tadi tetap terbuka.    
Re menyalakan oven, 180 derajat celcius. Matanya memejam sejenak, “Bismillah..”. Re membuka mata dan menggosok-gosok kedua telapak tangannya bersemangat. Ia lalu mengambil mangkuk kaca besar. Dituangkannya tepung terigu, bubuk coklat, dan vanili ke dalam mangkuk itu lalu diaduknya. Re menuangkan gula ke mangkuk berisi telur lalu mengambil mixer. Zrrrrrr.. Mixer menggerung lembut.
Re suka sekali lagu itu. Dibaginya lagu itu di laman tumblrnya, ditambah sebaris “Sayang sekali ga bisa diunduh” dan titik dua kurung tutup.
Campuran telur dan gula sudah mengembang, gulanya pun sudah halus. Re memasukkan garam lalu mengocoknya lagi sampai rata. Re mematikan mixer lalu mengambil ayakan. Diayakkannya campuran tepung ke dalam adonan telur. Serbuk coklat turun menghujani adonan putih dalam mangkuk.
Layar ponsel Re berkedip. Ada yang mengirimkan audio file lewat WhatsApp. “Apaan ni?” tanya Re. “Download aja dulu sih” balas si pengirim.  Re membalas lagi, “Lagi susah sinyal, nanti ya” lalu berdecak ketika membaca “Hehe yaudah terserah.. Oiya, jangan kaget kalo udah dengerin ya ntar #bikinpenasaran haha” di layar ponselnya. “Nyebelin sejuta. Hih,” Re kembali memasukkan ponsel ke saku celananya.
Re mengaduk adonan dengan sendok kayu. Makin lama makin berat. Tiap kali sendok berputar Re berdoa, “Semoga makanan ini bikin yang makan senang”. Tepung dan telur sudah bercampur rata, Re menuangkan minyak lalu mengaduk lagi. Sambil memperhatikan minyak berpusar menyatu dengan adonan, Re berdoa lagi untuk hal yang sama. Re mengadukkan kenari dan chocolate chips lalu menuangkan adonan ke loyang dan memasukkannya ke oven.
Penanda sinyal di kanan atas layar HPnya menyala hijau-oranye. Re segera mengunduh file tadi. 100%. Re menekan “play” lalu memekik girang saat mengenali lagu yang didengarnya.
Sudah 35 menit. Re membuka pintu oven, menarik rak, lalu menusukkan tusuk gigi ke brownies yang aromanya memenuhi seisi dapur. Serpih-serpih berwarna coklat yang melekat di tusuk gigi sudah tidak basah. Re mematikan oven lalu mengeluarkan loyang.
Re melirik jam tangannya, setengah delapan malam. Lagi-lagi ia harus mengerjakan tugas sampai malam di kampus. Re mematikan laptop. Orang yang duduk di sebelahnya menoleh, “Pulang?” tanyanya. Re mengangguk. “Eh Ar, gue udah download tuh” kata Re sambil membereskan barang-barangnya. Ar tertawa, “Terus? Udah tau itu apaan?” tanyanya tanpa mengalihkan pandang dari laptop-nya. Re ikut tertawa, “Yaaaah meskipun nyebelin sejuta, lo baiknya dua juta, jadi gapapa deh”. Ar menoleh dan mencebik. Re tertawa lagi, “Emang canggih lo ya.. Kok sama lo bisa di-download sih itu lagunya?”. Ar memasang tampang jumawa. “Makanya gue bilang juga lo install ini deh..” kata Ar sambil menunjukkan suatu program di laptop-nya.    
Re memotong brownies yang sudah dingin lalu memasukkannya ke kotak bekal. Re tersenyum sendiri membaca tulisan di post-it yang menempel di tutup kotak bekal.

“I hope this bring smile to your face the way you bring smile to mine :)”

 


---
Resep: Pennylane Brownies by Riana Ambarsari

(Naskah asli ditulis pada 2 September 2012)

Jadi?

Hujan. Depok dan hujannya yang tiba-tiba deras. Untung aku memang sedang duduk menunggu bus di halte. Ah, terakhir kali duduk di halte waktu hujan deras, ada percakapan itu. Percakapan yang anehnya kuucapkan tenang-tenang dari awal sampai akhir.

"Jadi kita mau ke mana, Ar?" tanyaku waktu itu
Kamu cepat menjawab, "Pulang, kan?"
Aku tertawa, "Bukan.."
"Terus?" Kamu terdengar bingung
Aku menoleh, menatap matamu "Kita ini.. ngapain Ar?"

Waktu itu aku cepat-cepat kembali memandang ke jalanan. Tak ingin melihat apapun yang raut mukamu bilang.

Tiga detik. Lima detik. "Kamu maunya?" Akhirnya kamu balik bertanya.
Jawabanku sudah siap di ujung lidah, "Aku maunya kamu seneng. Apapun itu artinya."
"Nin.."
Aku tersenyum, masih tak mau menoleh. "Kamu maunya apa?"

Jeda. Jeda panjang sampai hujan reda.
Kamu berdiri, kembali memakai helm, "Ayo pulang"

Ah. Sudah tiga minggu sejak percakapan itu.
Sebentar lagi tahun baru. Aku masih menunggu jawabanmu.

you know I'm such a fool for you
you got me wrapped around your finger
do you have to let it linger?
do you have to, do you have to
do you have to let it linger?


---
"You know I'm such a fool for you / You got me wrapped around your finger / Do you have to let it linger? / Do you have to, do you have to / Do you have to let it linger?" - Linger (The Cranberries)

(Naskah asli ditulis pada 15 November 2012)

LDR Macam Apa?

"Nin! I'm going to marry a man I've just met last week! This is totally crrrrrrrazzzyyyyy!"

Gue masih pengen nyengir kalo inget pesan yang gue terima lewat WhatsApp tadi pagi itu. Udah gila emang temen gue. Gila kerennya, menurut gue sih. Jadi, dia udah pacaran tiga setengah tahun, tapi cuma barengan setengah tahun doang. Sisa tiga tahunnya, LDR. Mereka jadian di akhir masa kuliah, terus pas lulus temen gue itu langsung kuliah S2 di Amerika setahun. Temen gue belom pulang, pacarnya berangkat ke Belanda buat S2 juga. Jadwal pulang mereka ga sinkron mulu, jadi selama tiga tahun mereka nyaris ga ada ketemuannya. Untung teknologi udah maju haha.. Setelah dilamar lewat Skype, akhirnya mereka bakal nikah besok. Pacarnya temen gue baru mendarat di Jakarta seminggu yang lalu, jadi yaaaa omongan temen gue itu ga salah-salah amat sih..

Gimana, keren gila ga tuh coba?
Tiga tahun LDR nyaris tanpa ketemuan tapi berhasil ga berpaling dari satu sama lain.
Nyembah deh gue. Haha..

Dan si gila yang selama tiga tahun selalu masang "and when I see you then I know it will be next to me" jadi status YM itu keliatan berbinar-binar banget sekarang di malam midodareninya. Gue yang nemenin di kamar aja sampe ketularan pengen senyum terus.

"Sas, gimana caranya sih bisa survive LDR-an gitu?"
"Hahaha klise sih, percaya sama komunikasi aja. Seru tau, karena ga barengan jadi selalu ada yang bisa diceritain. Trus dibawa santai aja, banyak hal bisa terjadi dalam tiga tahun kan, jadi ga usah janji yang muluk-muluk lah. Mau ngegebet orang juga silakan aja, asal bilang. Kalo gue pergi berdua cowok laen tapi ga bilang-bilang, nah, alarm tuh.. Hahaha.."
"Hoo gitu.. Ah keren keren.."
"Hahaha apaan.. Lo tuh lebih keren.. Udah 24 taun LDR kan lo.."
"Gue? 24 taun LDR? Dih, apaan.."
"Iya.."
"Ck ah.. Becanda banget sih Sas.. Pacar aja gue ga punya.."
"Naaaaah.. Justru! Lo tuh lagi LDR-an kepisah jauh banget, tau.."
"Maksudnya?"
"Lo sama jodoh lo tuh dipisahin sama waktu. Bisa banget orangnya udah ada di sekitar lo, cuma karena belom waktunya jadi yaaa ga sampe-sampe deh dia. Hahaha.."
"Huahahaha.. Teori macam apa itu Saaaaas.."
"Yeee, ga percaya.. Kan 'Wherever you are, whenever it's right, you'll come outta nowhere and into my life', Nin. Poinnya di waktu, bukan jarak. Kalo waktunya udah dateng, jarak tuh ga berarti apa-apa deh.."

Hmm.. Ajaib juga teorinya ya.. Tapi okelah gw terima. Lumayan, kalo ada sodara yang nanya "Pacarnya mana, Nin?" di kumpul keluarga kan gue jadi bisa jawab "Aku lagi LDR nih.." hahaha :D

---
"And when I see you then I know it will be next to me" - Closer (Travis)
"Wherever you are, whenever it's right, you'll come outta nowhere and into my life" - Haven't Met You Yet (Michael Buble)

(Naskah asli ditulis pada 8 September 2012)

Obituari

Beberapa hari lalu ada yang pergi.
Berhenti jantungnya, terputus nafasnya.

Dia, cerita kita.

Hari pertama, aku tak percaya.
Dia tak mungkin pergi. Dia pasti cuma sedang melewati daerah yang susah sinyal dalam perjalanan pulang kampungnya. Sesampainya di rumah dia pasti akan mengabariku lalu sibuk bicara tentang punggungmu yang kaku setelah duduk berjam-jam, empal enak yang kamu makan di tempat perhentian saat sahur, dan pemandangan familiar yang menyambutmu di terminal. Lalu ia akan mengantar padaku lagu yang menemanimu sepanjang jalan dan foto sinar matahari yang menerobos daun-daun jati. Dia tak mungkin pergi. Dia tak mungkin pergi. Kan?

Sudah berhari-hari.
Aku memanggilnya biar kembali. Aku memanggilnya lirih, seperti bisik-bisik sayang sebelum kukecup kupingmu. Aku memanggilnya jelas, seperti cerita-ceritaku yang bertabur derai tawamu. Dia tak kembali. Aku menjerit memanggilnya, sampai parau suraku, tapi dia tidak juga kembali.

Lalu aku menangis.
Aku mengalun tangis seharian. Menatap kosong sambil berlinang air mata. Sesenggukan mendaras namamu. Menjerit marah dalam tekapan bantal. Begitu berganti-ganti. Tengah malam, habis sudah air mataku. Mengering di sudut mata yang tiap beberapa menit masih saja menatap layar ponsel, berharap namamu tiba-tiba menyala di sana. Isak-isak yang tersisa pun lelah sudah. Tertidur bersama sedih yang melubangi hati.

Mauku tidur saja terus.
Biar dia main-main di mimpiku, menjadi sosoknya yang biasa. Berat tanganmu di kepalaku. Hangat tubuhmu yang menguar saat kita duduk bersisian. Wangi yang tertinggal di jaketmu dan membuatku terlambat kuliah saat menyelimuti tidurku. Tawa kita, lagu-lagu yang kita tukar kirimkan dan nyanyikan bersama, mimpi-mimpi ragu yang kita saling yakinkan, dan segala hal di bawah matahari yang kita bicarakan berjam-jam.

Tapi waktu tidak berputar berbalik arah, bukan?
Maka ketika sudah bosan aku berguling-guling di carut-marut pecahan hati, turunlah aku dari tempat tidurku. Mandi. Mengguyur kepala dan sekujur badanku dengan air dingin. Melarung marah yang menggelegak dan sedih yang berombak. Sudahlah. Sudahi saja. "Mengapa?" memang masih tersisa tapi toh aku tak yakin mau mendengar jawabannya.

Jadi sudahi saja.
Kutabur bunga di pusara cerita kita.
Begitulah ingin kuingat dia, kelopak-kelopak cantik di atas catatan perjalananku.

oh you're so sweet, too sweet to forget
but you don't love me like i love you
it's not to be i regret

---
"oh you're so sweet, too sweet to forget / but you don't love me like i love you / it's not to be i regret" - Too Sweet To Forget (Slank)

(Naskah asli ditulis pada 29 August 2012)

"Nggak Pernah Ada"

Ngeliat orang panik tuh lucu ya. Apalagi kalo paniknya karena hal yang menurut kita "yaelah apaan sih" banget. Makanya ini gue dari tadi usaha banget nahan ketawa sambil dengerin temen gue cerita dengan hebohnya.

"Semalem gue udah pusing banget. Jam 2 pagi, esai belom kelar padahal deadline jam 8, UAS belom belajar padahal mulainya jam 10. Pengen jambak-jambak rambut lah asli. Trus kan gue ngetwit ya, eh trus dia WhatsApp aja gitu tiba-tiba. Ga pake nanya ga pake apa-apa, tau-tau bilang 'Tidur gih sekarang, ntar jam 5 gue bangunin. Besok sarapan roti aja, lo nyetok roti kan di kosan? Gue jemput 7.45, lo udah print esainya, makan di motor.' aja."
"Trus?"
".......daaaaan gue nurut aja dong! Beneran langsung tidur habis itu, padahal harusnya gue nggak kan ya, apa kek lanjut ngetik esai kek atau belajar kek atau gimana."
"Hahaha.. Terus gimana? Kelar ga esai lo?"
"Kelar"
"Trus? Kok lo kedengeran panik banget nyeritain ini?"
"Adoooooh.. Poinnya bukan di esai gue kelar apa nggak, Winaaaa.."
"Trus?"
"Ah lo ni tras trus tras trus mulu"
"Ya abis... Ga jelas banget sih.."
"Poinnya adalaaaah... Nggak pernah ada orang yang gue biarin berpikir buat diri gue, Win. Nggak pernah ada."

Ah, kan. Buat gue sih itu "yaelah" banget urusannya. Enak kali ada yang bantuin mikir pas lagi pusing hahaha.. Tapi ternyata orang tuh beda-beda ya. Buat Re, yang emang cewek paling mandiri yang pernah gue kenal, itu "masalah" besar.

"Nggak pernah ada, Win, nggak pernah ada...."
"Iya Re, iya.."

Bisa bilang apa lagi gue? Udah lah gue iya-in aja. Haha.
Yang "nggak pernah ada" emang suatu saat bakal jadi ada kok.

Sama kayak tentang temen gue yang lain. Sefakultas tau, nggak pernah ada yang bisa nyuruh Ar ngelakuin apa yang ga dia mau. Pas jaman OSPEK, kerjaannya ribut sama senior mulu karena ga mau ngikutin aturan yang menurut dia ga perlu. Trus pas dia lagi pengen gondrong dan berewokan, bahkan teguran dosen paling killer sekalipun ga bikin dia cukuran. Tapi sekitar dua minggu yang lalu gw kaget banget liat Ar pake earphone di sekretariat. Beeeerbulan-bulan orang protes karena Ar tiap hari bikin berisik sekretariat dengan nyalain lagu yang suara gitarnya kenceng meraung-raung di laptop-nya tapi dia ngecilin volumenya pun enggak, boro-boro dengerin lewat earphone deh. Pas gue tanya dia kesambet apa sampe tiba-tiba pake earphone, dia cuma bilang "Kemaren ada yang ngingetin". Hmm.. Sehari sebelum itu, pas sekretariat lagi sepi, gue denger ada yang bilang "Kenapa sih Ar selalu dengerin lagu kenceng-kenceng gini? Ada loh, teknologi yang namanya earphone". Mereka berdua nggak tau kalo ada gue di situ, soalnya gue emang cuma ngecek kotak surat di pintu depan.

Yah, nggak pernah ada orang yang tau ke mana hati bisa menggerakkan seseorang kali ya. Mana Re tau, suatu hari dia akan nurut sama Ar yang WhatsApp-in malem-malem buta. Mana Ar tau, suatu hari dia akan nurut sama Re yang ngomong selewatan. Mana gue tau, apakah dua bocah keras kepala itu sadar dan mau terima kalo hati mereka maunya bergerak saling mendekat :p
26.2.13

Surat Binar Hari Kelimabelas

Selamat pagi Ranaaaa..

Lagi-lagi tadi ngelanggar aturan surat-suratan ya. Habis ga tega kalo lo kesiangan, yaudah gue bangunin deh.. Udah lama ga jadi anak sekolahan jadi ga biasa gitu ya masuk jam 7. Kuliah jam 8 aja berat banget haha.. Mana jauh gitu tempat magang lo, jadi harus berangkat habis Subuh banget deh. Makan yang bener ya lo biar ga sakit, jangan mi instan mulu!

Take care, dear..


PS: Kapan bisa ketemu?


Surat Binar Hari Keempatbelas

Dear Rana,

How was your day?
Lo magang di SMP kan ya? Awas jangan kecentilan sama anak kecil! Hehe..

Eh gue tadi nyobain muay thai, diajakin sama temen pas pulang kantor. Ya ampun, seru! :D Gue biasanya kan olah raganya berenang doang yak karena males keringetan *gimana sih olah raga kok ga mau keringetan :p* jadi tadi kaget-kaget-seneng gitu nyobain jenis olah raga yang lain. Olah raga tarung dengan instruktur yang mukanya ngajak berantem, kombinasi sempurna! Hahaha.. Lo cobain deh kapan-kapan, kita liat, staminanya mantan KaDep OR & Seni BEM Psikologi segimana sih sekarang :p

..dan sesi muay thai tadi sore itu bikin mata gw udah tinggal 5 watt padahal baru jam setengah 8! Canggih!

Gue tidur dulu ya,
look forward to meet you :)

Surat Binar Hari Ketigabelas

Dear Rana,

How's your day? Sayang sekali ya kita ga bisa ketemu hari ini.. Padahal ini hari pertama lo magang, gue kan pengen denger ceritanya..

Gue seneng deh tadi pagi entah kenapa keretanya ga penuh, trus ACnya berasa. Hore! Makin seneng karena gue pake sepatu baruuuu hihihi *cetek*

Oh trus di kantor nyortir CV, seperti biasa jadi banyak komentar hehe.. Ada yang emailnya unyu-unyu, fotonya tampak samping pake tank top (dikira pemilihan model kali), prestasinya menang lomba makan steak, sampe yang cover letternya masih ditujukan buat perusahaan laen. Eh tapi mending sih kalo pake cover letter, nah ada juga (banyak!) yang ga pake cover letter ga pake ba bi bu cuma attach CV doang. Zzzz. Oh trus ada juga yang "CV"nya berlembar-lembar dan "lengkap" banget, ada latar belakang keluarga dan rencana masa depan segala. Ini salah ngirimin CV buat ta'aruf kali ya.. Hehe..

Yaudah ya,
semangat magangnya!


10.2.13

Surat Binar Hari Keduabelas

Dear Rana,

Aww it's our 4th anniversary! Yayyy! :D

These four (or should I say, six?)  years, I cherish every moments with you. Most of all, I cherish our talks. Our discussion, your stories, my stories, ideas, dreams, revelations, naggings, everything. How we bicker, how we laugh, how we soothe each other, how we give feedbacks to each other, how we understand each other, how we trust each other, how we're alike, how we know each other's pattern by heart. The *rolleyes*-es, the ck-s, the -_-" -s, the smug "haha"s over the "iya deh iya"s. The teasing tones, the rising tones, the language plays and corrections, the never ending "eh"s and "btw"s. The topics: people, events, ideas, school, BEM, books, movies, music, Naruto, food, education, HR, campus politics, politics in general, anything hot on Twitter, daily happenings, you, me, life, practically everything under the sun. I do cherish our talks. For me it's relieving, soothing, entertaining, mind-provoking, recharging, and many more -ings. Oh and most of the time it's heartwarming :)

So, thank you :)
For everything.

Happy anniversary, dear :)
May we never be bored with each other, 'coz I can see we still have many more anniversaries to celebrate :p

Cheers!




PS:
Huahahaha apa-apaan itu minta surat tulisan tangan? Ngelunjak! Hahaha.. Ntar deh ya kapan-kapan. Sementara ini baca lagi aja love letters jaman BEM dulu, tulisan tangan semua kan tuh. Rajin bener kan gue dulu ngasih tiap minggu, yah meskipun isinya to do list sih :p

PPS:
May I tiptoe and hug you?
 

Blog Template by BloggerCandy.com