Showing posts with label Singles. Show all posts
Showing posts with label Singles. Show all posts
7.5.14

Mengingat-ingat

apakah waktu kecil dulu, aku
pernah merajuk tak menentu
sambil menjerit "Ibu, aku mau yang ituuuu!"

karena malam ini, aku
merasa gelisah tapi malu
karena diam-diam berdoa "Tuhan, aku mau yang itu"

(Naskah asli ditulis pada 8 Januari 2011)
6.5.14

Bermain di Taman Labirin

"Hai Tuan Putri, ada Ksatria yang ingin mengajakmu bermain di taman labirin"

Putri memicingkan mata mendengar sapaan Peri pagi itu. "Ksatria mana?" tanyanya. Lalu alis Putri terangkat saat mendengar jawaban Peri.

Bermain di taman labirin. Dengan Ksatria itu.
Bukan sesuatu yang Putri bayangkan, tapi ia beranjak keluar kamar juga.

Tiga menit berkuda, Putri pun sampai ke taman labirin. Tidak ada Ksatria di sana. Putri lalu memutuskan masuk labirin sendirian. Baru saja ia akan membuka gerbang labirin, seseorang menepuk pundaknya. Putri menoleh dan tersenyum pada Ksatria. Senyum Putri berganti kerutan kening ketika Ksatria berkata "Hey! Kau mau masuk bersamaku? Kebetulan aku juga sedang mencari cara tercepat keluar dari labirin ini". Kebetulan? Tapi kata Peri...

"Ah sudahlah," Putri menepis pikiran itu. Kakinya sudah melangkah masuk labirin bersama Ksatria. Putri melihat sekeliling, lalu tertegun. Labirin ini sama sekali baru untuknya. Hari itu bukan pertama kalinya ia bermain di taman labirin, tapi bahkan belokan pertama di depannya rasanya belum pernah ia lihat. Putri mengedikkan bahunya, "Ah, yang baru-baru biasanya seru, kan..".

Matahari sudah hampir tepat di atas kepala. Putri mulai berdecak tak sabar. Ksatria yang katanya mengajaknya bermain ternyata sering melesat pergi, tiba-tiba kembali, lalu pergi lagi. "Apanya yang bermain bersama sih kalau begini?" pikir Putri kesal.

"Ah sudahlah," lagi-lagi Putri menepis keributan dalam kepalanya. Ia mulai sibuk mencoba membayangkan pola labirin baru itu, membandingkannya dengan labirin-labirin lain yang sudah pernah dilewatinya, dan memikirkan kemungkinan jalan tercepat untuk keluar darinya. Tak lagi gemas dengan cara Ksatria bermain bersama, Putri sudah sangat senang karena belajar banyak hal baru selama perjalanannya dalam labirin.

Putri duduk bersandar ke dinding labirin, mengeluarkan kertas dan pensil dari tasnya, lalu mulai menggambar. Setengah jalan ia menggambar, tiba-tiba Ksatria datang dan duduk di sebelahnya. "Apanya yang bermain bersama kalau kau berjalan sendiri dan aku berjalan sendiri?" Putri berkata tanpa mengangkat pandang dari kertasnya. Ksatria tertawa, "Ah, kau salah dengar rupanya.. Aku tadi cuma mengajakmu masuk bersama kan? Hari ini misiku adalah mencari jalan keluar tercepat, mana kutahu kau ingin berjalan bersamaku."

Putri mendelik, dalam hati ingin mencubit Peri keras-keras tapi lalu menghela napas dan tersenyum. Hari itu terlalu cerah untuk dirusak dengan kekecewaan. "Sudah kau temukan jalan keluar tercepatnya?" tanya Putri. Ksatria menggeleng, "Tapi barangkali dengan gambarmu kita bisa temukan jalan itu". Putri mengangguk dan melanjutkan gambarnya, tentu disela dengan masukan Ksatria dan perdebatan di sana-sini. Perdebatan mereka bertabur tawa, meskipun kadang Putri frustrasi serasa ingin membenturkan kepala ke dinding labirin karena kekeraskepalaan Ksatria.

Akhirnya mereka berdua menyelesaikan gambar peta labirin. Berbekal peta itu, dengan cepat mereka bisa menemukan jalan keluar. Putri senang sekali, tapi..

..tak jauh di hadapan mereka, tampak labirin lain.

"Masuk bersama lagi?" tanya Ksatria.
Putri mengerjapkan mata. Candaan semesta macam apa ini.
Ditatapnya mata Ksatria, "Well, your call".

(Selesai ditulis pada 9 Januari 2014)
4.2.14

Perjalanan

Pintu kereta membuka. Aku melangkah turun dan mencabut earphone dari telinga. Menyeberang rel dengan telinga tersumbat renyah suara penyiar radio tak pernah jadi ide yang bagus. Apalagi kali ini, waktu pikiranku melayang-layang tak karuan begini.

Stasiun dalam kampus ini.
Sekarang ada colokan gratis untuk nebeng mengisi batere HP ya.. Ah. Berapa kali dulu kamu bilang "Sampe rumah langsung nge-charge terus ngabarin ya"? Aku lupa, saking tak terhitungnya.

Aku berjalan keluar stasiun. Ada bis kuning melintas menuju halte.
Kejar. Enggak. Kejar. Enggak.
Ah tak usahlah. Kamu saja tak pernah benar-benar mengejarku.
Eh apa sih? Makin ngelantur saja aku ini.

Akhirnya aku duduk di halte, memandangi baliho-baliho di seberang. Ada baliho open recruitment unit kamu. Sampai sekarang kamu masih di sana ya, masih sering pulang pagi karena unit itu. Yah beda alasan sih, dulu pulang pagi karena latihan, sekarang karena rapat. Dulu kita jalan di track yang berbeda di dunia kemahasiswaan, tapi itu justru bikin obrolan kita menarik. Drama-drama di unit kamu sering bikin aku bengong dan intrik-intrik di dunia politik kampus yang kujalani sering bikin kamu geleng-geleng kepala. Dalam banyak hal kita memang bertolak belakang, tapi selama 4 tahun kuliah kita banyak sekali bersenang-senang.

Bis kuning bertanda merah datang.
Aku naik dan duduk di tempat kesukaanku. Pojok kiri belakang.

Bis berjalan. Berhenti di halte pertama, aku menoleh. Berapa kali kamu jalan sendirian malam-malam dari situ sampai kosan kamu? Kurang kerjaan. Ngekos dekat tempat latihan tapi pulang latihan maunya makan di sekitar kosanku. Sampai di kosan, kamu lapar lagi karena jalan kaki.

Bis berjalan terus. Halte ketujuh.
Selalu banyak yang turun dan naik di halte ini. Dulu tak jarang aku termasuk di antara mereka. Pagi-pagi turun di halte ini untuk menuju kosanmu dan menggedor pintu kamarmu kalau kamu tidak bangun waktu kutelepon 45 menit sebelum jam 8.

Akhirnya aku sampai di halte terakhir.
Pemberhentian terakhir bis ini justru tempat permulaan cerita kita. Dua mahasiswa satu fakultas yang duduk di kantin larut malam karena alasan yang berbeda. Sebaris "Ngapain lo jam segini?" berkembang jadi obrolan berjam-jam di banyak malam selama dua tahun, banyak cerita yang terentang selama empat tahun, dan perasaan entah apa yang masih bertahan enam tahun kemudian. Masih bertahan di hatiku dan masih bertahan juga ke-tidak terdefinisikan-nya. Sama tidak terdefinisikannya dengan hubungan kita, meskipun sudah berulang kali aku memancingmu untuk memperjelasnya.

Aku turun dan duduk di kantin.
Dari halte ke halte tadi, isi kepalaku berisik sekali. Meloncat dari satu kenangan ke kenangan yang lain. Bertengkar satu sama lain.

Kali ini kita harus selesaikan.
Tab WhatsApp denganmu masih berisi obrolan kita tadi pagi.
Kuketikkan "Ada yang ngelamar gw. Hari ini kita bisa ketemu?"
15.5.13

Aku selalu suka menemanimu pergi ke toko buku. Meskipun di sana kamu seolah lupa padaku. Aku suka rasanya kamu meremas tanganku sebelum melepaskan diri dari gandenganku, masuk ke surgamu. Dengan senyum yang kutahu artinya kamu senang sekaligus degdegan. Iya, kamu juga pernah bilang kalau kamu degdegan masuk toko buku. Seperti kencan buta barangkali ya? Kamu tidak tahu buku mana yang akan memikatmu kali ini. Atau apakah buku yang kamu incar bisa kamu beli.

Aku suka melihatmu berbinar saat menemukan buku yang kamu cari. Seruan 'Ah!' kecil dan senyum lebar itu, aku suka sekali. Lalu kamu akan memilih buku yang akan kamu beli, mengamati kesempurnaan fisiknya, kerapihan lem jilidannya. Hal yang awalnya tak kumengerti, tapi kemudian kupahami sebagai keinginanmu untuk memastikan buku itu bisa kamu simpan sampai lama.

Kadang kamu gugup ketika menemukan buku tertentu, lucu sekali. Mungkin buku itu sudah lama kamu cari, atau penulis kesukaanmu menerbitkan buku dan secara ajaib kamu tidak tahu. Ah, kamu bisa sampai menjatuhkan buku karena tanganmu gemetar. Lucu sekali kamu, ratu drama kecilku.

Aku selalu suka menemanimu pergi ke toko buku.
Menyaksikanmu sebahagia itu, tak ada yang mengalahkan rasanya bagiku.


-240911
Dipublikasikan di sini karena tadi pergi ke Melodia 
20.4.13

Hujan

Ngeliat awannya sih, setengah jam lagi Bogor hujan deres nih 
Aku membaca kalimat itu di akun twittermu. Haha.. Masih saja ya kamu hobi meramal cuaca. Aku sedang di kereta, baru melewati Citayam menuju Bogor. Pas lah, kira-kira setengah jam lagi aku sampai Bogor. Coba kita buktikan ya, kamu masih layak menyebut dirimu "Dinas BMKG Kota Bogor" atau tidak.

***

Aku turun dari kereta, mengambil lipatan karcis yang kuselipkan di rantai jam tangan, memberikannya sambil lalu pada petugas, lalu keluar stasiun. Tidak bisa tidak, kepalaku otomatis menoleh ke kios gorengan dekat pintu keluar. Sepi, tidak ada lelaki jangkung yang buru-buru pamit pada penjual gorengan waktu melihatku. Sudah sepuluh bulan... dan aku masih berharap kamu ada di situ? Ck.

Aku membuka payung.
Seperti katamu, hujannya deras sekali. Dalam hati.
3.4.13

"Nggak Pernah Ada"

Ngeliat orang panik tuh lucu ya. Apalagi kalo paniknya karena hal yang menurut kita "yaelah apaan sih" banget. Makanya ini gue dari tadi usaha banget nahan ketawa sambil dengerin temen gue cerita dengan hebohnya.

"Semalem gue udah pusing banget. Jam 2 pagi, esai belom kelar padahal deadline jam 8, UAS belom belajar padahal mulainya jam 10. Pengen jambak-jambak rambut lah asli. Trus kan gue ngetwit ya, eh trus dia WhatsApp aja gitu tiba-tiba. Ga pake nanya ga pake apa-apa, tau-tau bilang 'Tidur gih sekarang, ntar jam 5 gue bangunin. Besok sarapan roti aja, lo nyetok roti kan di kosan? Gue jemput 7.45, lo udah print esainya, makan di motor.' aja."
"Trus?"
".......daaaaan gue nurut aja dong! Beneran langsung tidur habis itu, padahal harusnya gue nggak kan ya, apa kek lanjut ngetik esai kek atau belajar kek atau gimana."
"Hahaha.. Terus gimana? Kelar ga esai lo?"
"Kelar"
"Trus? Kok lo kedengeran panik banget nyeritain ini?"
"Adoooooh.. Poinnya bukan di esai gue kelar apa nggak, Winaaaa.."
"Trus?"
"Ah lo ni tras trus tras trus mulu"
"Ya abis... Ga jelas banget sih.."
"Poinnya adalaaaah... Nggak pernah ada orang yang gue biarin berpikir buat diri gue, Win. Nggak pernah ada."

Ah, kan. Buat gue sih itu "yaelah" banget urusannya. Enak kali ada yang bantuin mikir pas lagi pusing hahaha.. Tapi ternyata orang tuh beda-beda ya. Buat Re, yang emang cewek paling mandiri yang pernah gue kenal, itu "masalah" besar.

"Nggak pernah ada, Win, nggak pernah ada...."
"Iya Re, iya.."

Bisa bilang apa lagi gue? Udah lah gue iya-in aja. Haha.
Yang "nggak pernah ada" emang suatu saat bakal jadi ada kok.

Sama kayak tentang temen gue yang lain. Sefakultas tau, nggak pernah ada yang bisa nyuruh Ar ngelakuin apa yang ga dia mau. Pas jaman OSPEK, kerjaannya ribut sama senior mulu karena ga mau ngikutin aturan yang menurut dia ga perlu. Trus pas dia lagi pengen gondrong dan berewokan, bahkan teguran dosen paling killer sekalipun ga bikin dia cukuran. Tapi sekitar dua minggu yang lalu gw kaget banget liat Ar pake earphone di sekretariat. Beeeerbulan-bulan orang protes karena Ar tiap hari bikin berisik sekretariat dengan nyalain lagu yang suara gitarnya kenceng meraung-raung di laptop-nya tapi dia ngecilin volumenya pun enggak, boro-boro dengerin lewat earphone deh. Pas gue tanya dia kesambet apa sampe tiba-tiba pake earphone, dia cuma bilang "Kemaren ada yang ngingetin". Hmm.. Sehari sebelum itu, pas sekretariat lagi sepi, gue denger ada yang bilang "Kenapa sih Ar selalu dengerin lagu kenceng-kenceng gini? Ada loh, teknologi yang namanya earphone". Mereka berdua nggak tau kalo ada gue di situ, soalnya gue emang cuma ngecek kotak surat di pintu depan.

Yah, nggak pernah ada orang yang tau ke mana hati bisa menggerakkan seseorang kali ya. Mana Re tau, suatu hari dia akan nurut sama Ar yang WhatsApp-in malem-malem buta. Mana Ar tau, suatu hari dia akan nurut sama Re yang ngomong selewatan. Mana gue tau, apakah dua bocah keras kepala itu sadar dan mau terima kalo hati mereka maunya bergerak saling mendekat :p
24.1.13

Kekuatan Super

Kalau manusia bisa punya kekuatan super, saya tahu pasti kekuatan apa yang saya mau. Saya mau bisa berpindah tempat cuma dengan mengedipkan mata.

Karena kalau saya bisa, malam ini HP saya tidak perlu bekerja ekstra keras dengan diatur supaya layarnya tidak otomatis padam setelah satu menit dan saya bisa terus melihat sebaris namamu.
Karena kalau saya bisa, malam ini saya mau mengedipkan mata dan tiba-tiba sudah ada di dekatmu. Tak peduli apa yang mau kamu lakukan, saya akan duduk diam sambil membaca buku dan tidak mengganggu. Yang penting kalau saya mengangkat mata dari buku yang saya baca, saya bisa melihat kamu. Kalau kamu duduk di sebelah saya sambil sibuk entah apa dengan laptopmu, itu lebih baik. Jadi saya bisa terus melihatmu dari sudut mata saya dan menghirup wangimu bersama setiap tarikan nafas saya.
Karena kalau saya bisa, malam ini saya mau pulang.

Sayangnya saya masih harus menempuh sekian kilometer dengan tiga atau empat kendaraan yang berbeda untuk menemuimu. Terlalu melelahkan untuk malam ini.
 

Blog Template by BloggerCandy.com